Home Budaya Rumah Tanpa Paku, Tahan Gempa | Ciri Khas “Omo Sebua”

Rumah Tanpa Paku, Tahan Gempa | Ciri Khas “Omo Sebua”

6 min read
0
0
300

Omo Sebua adalah jenis rumah adat dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Omo Sebua adalah rumah yang khusus dibangun untuk kepala adat desa dengan tiang tiang yang besar dari kayu besi dan atap yang tinggi. Omo Sebua didesain secara khusus untuk melindungi penghuninya dari serangan saat terjadinya perang suku pada zaman dahulu. Jalur masuk ke rumah hanyalah tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Bentuk atap rumah yang sangat curam dapat mencapai tinggi 16 meter. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, Omo Sebua diketahui tahan terhadap goncangan gempa bumi.

Rumah Adat Nias merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Pulau Nias. Meskipun sudah berumur ratusan tahun, Rumah Adat Nias atau “Omo Hada/Omo Sebua” masih bertahan sampai sekarang. Rumah Adat Nias ini memiliki keunikan tersendiri yaitu tidak menggunakan Paku untuk menghubungkan masing-masing bagian di rumah adat tersebut, tetapi hanya menggunakan pasak kayu. Karena semua bahan bangunan dari Omo Sebua ini hanya terdiri dari kayu-kayu besar khas Nias, seperti kayu Manawadano, Kayu Berua, Kayu Afoa, Kayu Avini, Kayu Simalambuo  dan daun rumbia (bulu zaku) ,berbeda dengan rumah-rumah biasa pada umumnya. Namun Omo Sebua atau Rumah Adat ini terbukti sangat kokoh dan tahan terhadap gempa.

Omo Sebua ini termasuk salah satu bangunan yang tergolong elite di Pulau Nias. Jika Omo Sebua adalah rumah pemimpin maka Omo Hada adalah rumah tradisional masyarakat Nias. Biasanya pada sebuah kampung atau desa di Nias terdapat sekitar 20-30 rumah Omo Hada dan 1 rumah Omo Sebua sebagai rumah kepala suku, Omo Hada ini adalah bangunan yang memiliki nilai-nilai tradisi dan budaya yang sangat penting di dalam kehidupan masyarakat di Pulau Nias, bahkan bangunan ini termasuk bangunan yang sangat dijaga keberadaannya oleh masyarakat Nias.

Rumah Adat ini umumnya disangga oleh balok-balok kayu berbentuk letter X yang disebut “diwa”. Diwa menahan lantai rumah di bagian kolong, selain ada pula “siloto” yang berupa kayu panjang yang menempel di bagian bawah papan lantai rumah tersebut. Siloto langsung menahan lantai rumah, dan merupakan bagian kayu yang paling elastis. Ada juga “gehomo”, yaitu kayu-kayu yang tegak lurus menopang dan memagari seluruh kolong rumah sehingga Omo Hada semakin kokoh sekaligus elastis. Gehomo berada di bagian terluar pada kolong rumah, sedangkan siloto dan diwa berada di bagian dalamnya.. Untuk memasuki rumah adat ini terlebih dahulu menaiki tangga dengan anak tangga yang selalu ganjil 5 – 7 buah, kemudian memasuki pintu rumah yang ada dua macam yaitu seperti pintu rumah biasa dan pintu horizontal yang terletak di pintu rumah dengan daun pintu membuka ke atas. Pintu masuk seperti ini mempunyai maksud untuk menghormati pemilik rumah juga agar musuh sukar menyerang ke dalam rumah bila terjadi peperangan.

Rumah adat Nias biasanya diberi hiasan berupa ukiran-ukiran kayu yang sangat halus dan diukirkan pada balok-balok utuh. Seperti dalam ruangan Tawalo yang luas itu interinya dihiasi ukiran kera lambang kejantanan, ukiran perahu-perahu perang melambangkan keperkasaan. Dahulu, di ruangan ini juga digantungkan tulang-tulang rahang babi yang berasal dari babi-babi yang dipotong pada waktu pesta adat dalam pembuatan rumah tersebut.
Menurut cerita, di ruangan ini dahulu digantungkan tengkorak kepala manusia yang dipancumg untuk tumbal pendirian rumah. Tapi setelah Belanda datang, kebiasaan tersebut disingkirkan. Untuk melengkapi ciri khas adat istiadat Nias adalah adanya batu loncat yang disebut zawo-zawo (Lompat Batu). Bangunan batu ini dibuat sedemikian rupa untuk upacara lompat batu bagi laki-laki yang telah dewasa dalam mencoba ketangkasannya.

 

 

 

Load More Related Articles
Load More By onomatua
Load More In Budaya

Baca Juga

Ketika Presiden Jokowi Hampir Keliru Bilang ‘Horas’ di Nias

Presiden Jokowi mengaku dulu hanya mengetahui satu jenis salam ketika berkunjung ke Sumate…