Home Berita Isu Negatif Suku Nias Mengenai Ayah Pengantin Pria Malam Pertama Dengan Pengantin Wanita, Benarkah?

Isu Negatif Suku Nias Mengenai Ayah Pengantin Pria Malam Pertama Dengan Pengantin Wanita, Benarkah?

7 min read
3
2
24,156

Niasoke.com – Suku Nias merupakan salah satu suku yang unik dari ribuan suku lainnya di Indonesia yang masih memelihara dan melestarikan kebudayaan dan adat warisan nenek moyang.

Secara umum yang mengatur seluruh aspek kehidupan Suku Nias dari lahir sampai meninggal dunia disebut fondrako (hukum adat).

Di dalam tatanan kehidupan Suku Nias, salah satu adat yang unik adalah sistem atau adat pernikahan (fangowalu) yang masih terpelihara dan dijunjung tinggi oleh masyarakatnya hingga saat ini.

Sayangnya, beberapa orang dari suku lain mengatakan ada ritual aneh dalam setiap proses pernikahan Suku Nias, seperti yang baru-baru ini diungkapkan di facebook oleh pemilik akun bernisial MH yang mengatakan bahwa ayah pengantin pria yang menjalani malam pertama dengan pengantin wanita.

Lamban laun akhirnya fakta ini pun terungkap kebenarannya. Diketahui MH menikah kepada seorang Pria asal dari Suku Nias berinisial DN di Kota Medan tahun 2000 yang lalu.

Kurang lebih satu tahun setelah membentuk keluarga mereka belum di karuniai anak, malah yang terjadi suaminya DN kena penyakit parah dan sudah berobat dibeberapa rumah sakit besar yang ada di kota Medan tetapi tidak sembuh juga, sehingga mereka mengambil keputusan pulang kampung di Nias untuk berobat secara tradisonal. Alhasil beberapa bulan kemudian bukan jadi sembuh malah si DN meninggal Dunia.

Setelah DN meninggal Dunia, istrinya MH masih betah tinggal di Nias di rumah mertuanya, disana Dia (MH, Red) mulai berladang untuk mencari nafkah bersama-sama mertuanya dan menyadap karet, karena karet merupakan penghasilan utama Suku Nias.

Entah gerangan apa yang terjadi, tiba-tiba MH mulai jatuh Cinta sama Bapak Mertuanya selama beberapa bulan setelah suaminya meninggal. Pepatah mengatakan sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti tercium juga. Di pertengahan tahun 2005 akhirnya hubungan gelapnya MH dengan Bapak mertuanya di ketahui oleh Ibu mertuanya atas petunjuk SMS Ajakan ML mawar kepada Bapak Mertuanya.

Hingga Akhirnya Keluarga Besar Mertua MH menolak dan tidak lagi menerima keberadaan MH di dalam keluarga itu hingga dia di usir.

Mungkin karena telah terlanjur Cinta kepada Bapak Mertuanya MH tidak mau pergi dari Rumah itu walaupun akhirnya Dia (MH, Red) tetap pergi meninggalkan Pulau Nias hingga akhirnya Dia membeberkan telah diperkosa oleh bapak mertuanya, Hingga Dia (MH, Red) mengaku bapak Mertuanya yang meniduri nya di malam pertama sehingga Isu negatif tentang Suku Nias semakin meluas.

Menanggapi sekaligus membantah isu negatif yang telah tersebar selama ini, Pemuda Peduli Nias (PPN) menyelenggarakan diskusi dengan tema “Mengenal Adat Istiadat Suku Nias” dengan menghadirkan sejumlah narasumber.

Para narasumber yang dihadirkan adalah Pastor Johannes Hammerle Ofm.Cap (Budayawan sekaligus Pendiri Museum Pusaka Nias), Dr Drs Sadieli Telaumbanua M.Pd (Akademisi), Dr Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI), Firman Jaya Daeli (Tokoh Masyarakat Nias), dan Dr Niru Anita Sinaga SH MH (istri dari salah satu tokoh masyarakat Nias untuk mengungkap apakah benar atau tidak tuduhan negatif yang selama ini beredar).

Ketua Panitia, Bruno Adolf Richard Telaumbanua, mengatakan bahwa penyelenggara bahwa diskusi ini diselenggarakan bukan hanya untuk membantah isu negatif yang selama ini ditujukan kepada Suku Nias, tetapi juga bertujuan untuk memperkenalkan keunikan adat istiadat dan budaya kepada masyarakat luas.

“Masyarakat Suku Nias selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat istiadat serta mengedepankan etika, moral dan kehormatan keluarga,” tuturnya.

Pastor Johannes Hammerle Ofm.Cap, Budayawan sekaligus Pendiri Museum Pusaka Nias, mengatakan bahwa salah satu kata kunci untuk Nias ialah NIHA (manusia). Oleh karena itu, kepulauan yang terletak di sebelah Barat Sumatera itu disebut Tano Niha, tanah yang merupakan kediaman manusia.

“Dalam setiap proses kehidupan masyarakat Suku Nias, selalu mengedepankan perbuatan yang manusiawi. Pernyataan negatif yang selama ini beredar, tidak benar! Sama sekali tidak ada dalam budaya Suku Nias,” ungkap Johannes.

Dalam kesempatan yang sama, Dr Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, menambahkan bahwa pemerintah memberikan perhatian lebih pada pelesatarian kebudayaan di Indonesia.

“Pada bulan April 2017 mendatang, pemerintah akan mengesahkan Rancangan Undang Undang tentang Kebudayaan menjadi Undang Undang. Dalam Undang Undang tersebut, mengatur tentang sanksi bagi pelaku penghinaan yang ditujukan kepada kebudayaan suku-suku di Indonesia,” tambahnya.

“Dengan diselenggarakannya diskusi ini dapat menumbuhkan rasa cinta pemuda-pemudi Nias, khususnya yang berada di perantauan terhadap adat istiadat yang diwarisi secara turun temurun,” tutupnya.

  • Dikutip dari waspada.co.id

Load More Related Articles
Load More By ononiha
Load More In Berita
  • Faa Gl

    Hidup nak Nias…!!!!!!!!!!!

  • loi punya

    ISU NEGATIF SUKU NIAS MENGENAI AYAH PENGANTIN PRIA MALAM PERTAMA DENGAN PENGANTIN WANITA, BENARKAH??
    Suku Nias merupakan salah satu suku yang unik dari ribuan suku lainnya di Indonesia yang masih memelihara dan melestarikan kebudayaan dan adat istiadat warisan nenek moyang.
    Didalam tatanan kehidupan suku Nias adalah sistem atau adat pernikahan (fangowalu) yang masih terpelihara dan dijunjung tinggi oleh masyarakatnya hingga saat ini.
    Namun dari beberapa suku lain mengatakan ada ritual aneh dalam setiap proses pernikahan SUKU NIAS, seperti ini yang baru-baru ini diungkapkan di akun facebook berinisial MH yang mengatakan bahwa Ayah pengantin pria yang menjalani malam pertama dengan pengantin Wanita hingga berita ini semakin heboh.
    Lamban laun akhirnya fakta ini pun terungkap kebenarannya. Diketahui seorang wanita yang dari SUKU BATAK sebut saja Namanya Mawar Br. Harahap menikah kepada seorang Pria asal dari Suku Nias berinisial DN di Kota Medan tahun 2000 yang lalu. Kurang lebih satu tahun setelah membentuk keluarga mereka belum di karuniai anak, malah yang terjadi suaminya DN kena penyakit parah dan sudah berobat dibeberapa rumah sakit besar yang ada di kota Medan tetapi tidak sembuh juga, sehingga mereka mengambil keputusan pulang kampung di Nias untuk berobat secara tradisonal. Alhasil beberapa bulan kemudian bukan jadi sembuh malah si DN meninggal Dunia.
    Setelah DN meninggal Dunia, istrinya Mawar Br. Harahap masih betah tinggal di Nias di rumah mertuanya, disana Dia (Mawar,Red) mulai berladang untuk mencari nafkah bersama-sama mertuanya dan menyadap karet, karena karet merupakan penghasilan utama Suku Nias.
    Entah gerangan apa yang terjadi, tiba-tiba Mawar mulai jatuh Cinta sama Bapak Mertuanya selama beberapa bulan setelah suaminya meninggal. Pepatah mengatakan sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti tercium juga. Di pertengahan tahun 2005 akhirnya hubungan gelapnya Mawar dengan Bapak mertuanya di ketahui oleh Ibu mertuanya atas petunjuk SMS Ajakan ML mawar kepada Bapak Mertuanya.
    Hingga Akhirnya Keluarga Besar Mertua Mawar menolak dan tidak lagi menerima keberadaan Mawar di dalam keluarga itu hingga dia di usir.
    Mungkin karena telah terlanjur Cinta kepada Bapak Mertuanya Mawar tidak mau pergi dari Rumah itu walaupun akhirnya Dia (mawar. Red) tetap pergi meninggalkan Pulau Nias hingga akhirnya Dia membeberkan telah diperkosa oleh bapak mertuanya, Hingga Dia (Mawar.Red) mengaku bapak Mertuanya yang meniduri nya di malam pertama sehingga Isu negatif tentang Suku Nias semakin meluas.
    Menanggapi sekaligus membantah isu negatif yang tersebar selama ini, Pemuda Peduli Nias Menyelengagarakan diskusi dengan tema “Mengenal Adat Istiadat Suku Nias” dengan menghadirkan beberapa narasumber.
    Para narasumber yang dihadirkan adalah Pastor Johannes Hammerle Ofm.cap (Budayawan sekaligus pendiri Museum Pusaka Nias), Dr. Hilmard Farid (Dirjen kementerian Kebudayaandan Pendidikan), Firman Jaya Daeli (tokoh Masyarakat Nias), dan Dr. Niru Anita Sinaga, SH.MH (Istri salah satu Tokoh masyarakat Nias)
    “Dalam Setiap Proses Kehidupan Masyarakat Nias, selalu mengedepankan perbuatan yang manusiawi. Pernyataan negative yang selama ini beredar, tidak Benar! Samasekali tidak ada dalam budaya Suku Nias,” Ungkap Johannes.
    Dalam kesempatan yang sama, Dr. Niru Anita Sinaga, SH.MH membantah tuduhan negative yang selama ini di tuduhkan kepada Suku Nias “Itu tidak benar, itu merupakan pelecehan dan pencemaran nama baik terhadapa Suku Nias, karena saya sendiri adalah istri dari Pria Suku Nias” tambahnya.
    Dr.Hilmar farid menambahkan pada bulan April yang lalu, pemerintah telah mengesahkan Rancangan Undang-undang tentang kebudayaan menjadi Undang-undang, didalam undnag-undang tersebut mengatur tentang sanksi bagi pelaku penghinaan suku-suku di Indonesia.

    Sumber : Keluarga DN

    • ononiha

      Sudah di update ya Mado, terima kasih informasinya..

Baca Juga

Kisah “Awuwukha” si Pemburu Kepala Manusia Dari Pulau Nias

Niasoke.com – Pulau Nias memang menyimpan berjuta pesona keindahan alam, dan juga ce…