Home Budaya Mengenal Tarian Tradisional Nias, Sumatera Utara

Mengenal Tarian Tradisional Nias, Sumatera Utara

6 min read
0
6
8,625
Fatele (Tari Perang) - niasoke

Niasoke.com – Setiap daerah pasti memiliki Tarian Daerah masing-masing. Begitu juga Nias, pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera yang terkenal dengan lompat batunya (Hombo Batu). Tarian Tradisional Nias tidak bisa di pisahkan dengan kehidupan masyarakatnya karena sudah menjadi bagian penting dari Budaya Nias dan uniknya, berbagai jenis tarian untuk berbagai acara yang akan di langsungkan.

Saat ini tarian Tradisional Nias sudah menjadi hal yang wajib di lakukan untuk penyambutan tamu kehormatan ataupun acara-acara kebudayaan Nias. Berikut ini adalah Jenis Tarian Tradisional Nias:

1. Fanari Moyo (Tari Elang)

Tari Moyo ini biasanya ditarikan oleh para penari wanita dengan gerakan hampir mirip dengan gerakan Elang yang sedang terbang dan mengepakkan sayapnya. Tarian ini melambangkan kegigihan dan semangat burung elang dan rakyat Nias. Tari Moyo kadang-kadang ditampilkan setelah atau sebelum satu acara atau perayaan.

2. Maena

Tarian ini termasuk jenis tarian rakyat yang dilakukan secara bersama-sama atau masal. Kelompok-kelompok pria maupun wanita berbaris dan menari. Biasanya diawali dengan pantun yang dibawakan oleh pembawa acara. Untuk pantun yang dibawakan biasanya disesuaikan dengan tema acara. Kemudian dilanjutkan dengan syair maena (fanehe maena) yang dilantunkan semua penari sambil menari. Ini adalah tarian yang paling populer dan menyenangkan di Nias. Semua orang Nias tahu langkah-langkah untuk tarian ini.

3. Fatele (Tari Perang)

Fatele adalah tarian perang yang terkenal dari Nias Selatan. Pada dasarnya ini adalah berlakunya kembali pertempuran, dengan banyak prajurit dengan pakaian tanda kerajaan mengambil bagian. Tarian ini mengikuti naskah tertentu dan mirip dengan pertunjukan di panggung sandiwara. Tarian ini sangat realistis dan prajurit biasanya masuk ke karakter sampai terlihat seperti pertempuran nyata akan terjadi.

4. Famanu – Manu (Tari Perang)

Akhir tarian perang Fatele, di mana pahlawan desa mengalahkan musuh dalam perang tanding.

5. Bölihae

Ini adalah tarian pertama dalam sambutan upacara dan nyanyian dalam perjalanan menuju ke desa dan rumah tuan rumah penyelenggara pesta. Pengunjung berjalan menuju sebuah desa ditemui oleh perwakilan dari tuan rumah, sebagai sambutan awal dan juga menunjuk jalan ke pengunjung ke rumah tuan rumah. Dengan mendengar nyanyian ini di kejauhan, tuan rumah tahu bahwa pengunjung mendekati. Lebih sering dilakukan ketika ada pesta perkawinan.

6. Fahimba

Juga disebut tari Humba. Ini adalah tahap kedua dari sambutan upacara yang dilakukan oleh tuan rumah ketika pengunjung tiba. Tarian ini melibatkan beberapa seni sandiwara dan aspek dari tari perang. Pada awalnya, ketika tamu tiba, tidak jelas apakah pengunjung itu ramah atau penyusup. Para wanita di rombongan menempatkan diri mereka di tengah untuk menghindari perkelahian apapun. Tanggapan dari tamu terhadap tarian ini adalah dengan tarian Hiwö.

7. Hiwö

Tari yang dilakukan oleh pengunjung saat mereka tiba di rumah tuan rumah. Penari laki-laki memegang tangan dan menari saling serong menuju ke tuan rumah. Tarian ini melibatkan beberapa seni sandiwara dan aspek dari tari perang. Pada awalnya ketika tamu tiba, tidak jelas apakah tuan rumah itu menyambut mereka atau memperlakukan seperti mereka itu penyusup. Para wanita di rombongan menempatkan diri mereka di tengah untuk menghindari perkelahian apapun. Tanggapan dari tamu terhadap tarian ini adalah dengan tarian Himba.

8. Maluaya

Satu tarian sambutan lain dari Nias Selatan. Ini dipertunjukkan oleh laki-laki dan perempuan bersama-sama di tengah-tengah lapangan desa tradisional.

9. Mogaele

Ini adalah tarian di mana penari perempuan menawarkan sekapur sirih dari tas khusus kepada tamu penting. Hari ini tarian ini sering dilakukan ketika tamu penting seperti menteri atau pegawai pemerintah mengunjungi Nias. Tari Mogaele adalah nama tarian ini di Nias Selatan. Di Nias Utara tarian ini disebut tari Famaola gö afo.

Referensi: Museum Pusaka Nias | Photo by : Agus Mendröfa

 

Load More Related Articles
Load More By ononiha
Load More In Budaya

Baca Juga

Kisah “Awuwukha” si Pemburu Kepala Manusia Dari Pulau Nias

Niasoke.com – Pulau Nias memang menyimpan berjuta pesona keindahan alam, dan juga ce…